Kamis, 08 Agustus 2019

mebangun peradaban

Pengalaman adalah guru yang hebat. Semakin banyak pengalaman semakin banyak ilmu yang didapat. Salah satunya adalah ilmu dari SMA Bakti Ponorogo. Pengalaman itu dapat memberikan wawasan hidup. Contoh mengembangkan Sekolah melalui nuansa pondok pesantren. Jadi guru juga sebagai ustadz dan ustadzah sedangkan murid juga sebagai santriwan dan santriwati. Tentu tidak hanya label bernuansa pondok pesantren, tetapi yang lebih utama adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan apa yang ada di dalam agama Islam seperti yang yang dilakukan oleh nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yaitu membangun peradaban manusia.

perjalanan membuat pengalam yang akhirnya memberikan pemecahan.
hebat guru tiu'namun mereka lupa dengan yang paling sederhana. saking hebatnya lupa sopan santun.
apa itu.
ketika masuk ke ruangan belum dipersilahkan langsung mblusuk.
ketika akan berkomunikasi langsung menodong. tanpa berkata maaf mengganggu.
mau minta tanda tangan seperti perilaku perampok langsung menodong. pak minta tanda tangan.
saking pintere lupauntuk berkata bolehkah saya ....
saking pntere mereka bicara prestasi namun mereka lupa akhlaq mulia. peradapan manusia sudah hinga di negeri ini sehngga aturan dan sopan santun sudh tidak berarti.
Rasulullah lakukan diawal hijrahnya dalam cita-citanya membangun peradaban rabbani.
Setidaknya, ada dua aspek yang rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam terapkan setibanya di madinah.
Pertama, aspek spiritual dengan membangun masjid. Sebagai mana yang ditulis syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam sirah nabawiyyah, langkah paling pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid yang kemudian dikenal dengan masjid Nabawi, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam terjun langsung dalam pembangunan ini.
Masjid yang didirikan nabi bukan hanya untuk melaksanakan shalat semata, tapi juga tempat mengenyam pendidikan bagi semua umat muslim, sebagai balai pertemuan untuk mempersatukan umat islam dan membahas berbagai masalah, juga tempat tinggal kaum muhajirin yang tak membawa harta ke Madinah.
Fakta tersebut tentu berseberangan dengan keadaan sekarang. Dimana kaum muslimin kebanyakan hanya menggunakan masjid sebagai sarana ibadah seperti shalat. Sangat jarang ditemukan masijd yang Multifungsi.
Kedua, aspek sosial dengan mempersaudarakan dan mempersatukan kaum muslimin. Setelah Rasulullah membangun masjid, Rasulullah lalu mengambil tindakan spektakuler, yaitu dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar.

“Kanjeng Nabi SAW bukan sekadar berdakwah tapi juga mendidik, mengkader, memimpin, membela nasib yang tertindas juga merasakan yang dirasakan umatnya,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online,Rabu (19/9) lewat twitternya.

Menurut Direktur Sufi Center Jakarta ini, bahkan Rasulullah kerap menangis ketika memikirkan nasib umatnya kelak. Sehingga di tiap tetes air matanya terpantul hati para umatnya.

“Bahkan dalam tetes airmatanya terpantul seluruh hati umatnya. Agar semua selamat dari hijab dan adzab,” tutur Kiai Luqman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kordinator

  Parang. Simbul Widarto  Lembeyan Yusuf Nguntoronadi Triyono Takeran Hanif  Gorang gareng. Pur Bendo Samsiati  Maospati Yuli Barat A. Warno...